Rumi: Fashion dan Syair Cinta

essai

Awal Maret lalu Kabir Edmund Helminski, seorang mursyid (guru) asal Amerika mengenalkan tasawuf dan tarian berpusar ala Jalaluddin Rumi di Bogor, Jawa Barat. Praktek zikir (mengingat Tuhan), ceramah, meditasi, pelatihan sema' (audisi), dan gerakan berputar tarekat Maulawiyah dikenalkan oleh Helminski. Acara tersebut dihadiri cukup banyak orang. Seakan kedahagaan spiritual pun bisa terpuaskan melalui kursus tasawuf itu.


Jalaluddin Rumi, sufi dan penyair besar dari Konya ini memang diakui memiliki daya tarik yang luar biasa Tengoklah buku-buku Rumi yang ada rak-rak toko buku tak lepas dari dilirik penggemarnya. Bahkan buku Jalan Cinta Sang Sufi karya William C. Chittick terbitan dari Yogjakarta telah naik cetak berkali-kali. Kiranya pada tahun 2000 banyak karya Rumi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Banyak penerbit-penerbit Yogjakarta yang menerjemahkan karya-karya Rumi.


Barangkali getaran napas spiritual Rumi telah menembus dinding modernisme. Seakan hembusan napas cinta Rumi dari abad 13 menggenangi negeri Paman Sam dan mengalir ke seluruh belahan bumi. Kehadiran karya-karya Rumi telah melintasi batasan waktu, budaya, dan agama. Namun benarkah esensi syair-syair religius Rumi yang mereka tangkap atau hanya budaya sesaat?
Jalaluddin Rumi pernah diberitakan oleh Publisher' Weekly sebagai seorang penyair yang paling menjual di Amerika. Kemasyuran Rumi terus berkembang hingga oleh Coleman Barks karya-karyanya diterjemahkan dan diterbitkan. Coleman Barks berhasil menjual lebih dari seperempat juta copi dari hasil terjemahannya. Puisi Rumi yang dinyanyikan oleh Nusrat Ali Khan pun masuk daftar Billboard's Top Twenty. CD berjudul Love Poems of Rumi berisi puisi-puisi Rumi hadir mengiringi pagelaran fashion show di New York. Madonna, Rosa park, Goldie Hawn, Demi Moore, dan Martin Sheen turut hadir di sana (Amira El-Zein, 2000). Suatu fenomena luar biasa dan membuat orang terheran-heran.


Memang harus diakui banyak sekali yang tertarik membaca syair Rumi tapi sesungguhnya latar belakang serta esensi dari tradisi Islam (sufisme) tak dipahami sepenuhnya. Kebanyakan mengira syair Rumi bukan berasal dari hasil pengalaman spiritual. Hal inilah yang dikritik Annemarie Schimmel, seorang peneliti yang telah menggeluti Rumi lebih dari 40 tahun. Schimmel melihat banyak orang tertarik pada Rumi karena Tarian Berpusar dari tarekat Maulawiyahnya. Ia pun menyontohkan seorang mahasiswanya yang tertarik mengikuti kuliah tasawufnya karena ia telah membaca karya Rumi dan melakukan tarian berputar, namun ia tak mengetahui akar dari sufisme itu sendiri.


Sufisme biasa dipergunakan untuk menyebut mistik Islam, sebuah 'jalan' untuk menyatu Sang Pencipta. Evelyn Underhill, seorang tokoh penting awal dalam studi mistisisme, mengatakan bahwa satu ciri pokok mistisisme adalah "kesatuan antara Tuhan dan jiwa (manusia)" (King, 2001). Dalam khasanah mistik Jawa lebih dikenal dengan Manunggaling Kawula Gusti.


Di Barat Rumi dikenal karena tarian darwis berpusarnya yang mempesona. Ritual tarian ini menjadi bagian penting dari tarekat Maulawiyah. Esensi dari ritual tarian seperti gasing ini adalah perlambang pemujaan pada Sang Pencipta. Tarian ini juga disimbolkan sebagai perputaran alam semesta. Musik, tarian,dan puisi melengkapi ritual tarian berputar yang juga diiringi dengan zikir.
Jalaluddin Rumi (1207-1273) adalah sufi dan penyair termasyur yang melahirkan banyak karya. Matsnawi merupakan karyanya yang penting dan banyak yang menyebutnya sebagai Al Quran-nya orang Turki. Matsnawi berisi puisi-puisi dan kisah-kisah yang mengacu pada Al Quran, sunah Nabi, dan ajaran-ajaran kaum Sufi terdahulu.


Tema-tema syair Rumi selalu terkaitan dengan manusia, Tuhan, dan alam. Karya-karya Rumi selalu mengacu tema Cinta. 'Cinta' dijadikan jalan menuju kesatuan dengan Sang Pencipta. Tasawuf Rumi sendiri digolongkan pada Mistisisme Cinta. Melalui jalan Cinta ini Rumi berupaya mewujudkan rasa keterpisahan dan kerinduan yang sangat pada Sang Pencipta untuk bersatu. Segala keindahan yang nampak dipahami Rumi cerminan dari Tuhan. Seperti halnya Socrates, Rumi juga memahami cinta sebagai kerinduan jiwa akan keindahan. Tentang Cinta, Rumi dalam sebuah syair mengatakan:
Suatu malam kutanya Cinta: "katakan, siapa sesungguhnya dirimu?"
Katanya: Aku ini kehidupan abadi, aku memperbanyak kehidupan indah itu."
 
Cinta bagi Rumi adalah penggerak segalanya. Cinta telah diciptakan pertama kali oleh Tuhan. Rumi menyebut "cinta" sebagai kekuatan kreatif fundamental. Lewat Cinta segalanya akan berubah menuju tingkatan yang lebih baik. Cinta itulah yang bertanggung jawab atas pertumbuhan (evolusi) alam dari tingkat yang rendah ke tingkat lain yang lebih tinggi (Kartanegara,1986).
Bila kita mengetahui latar belakang sufi dan penyair dari Konya ini, kita akan lebih hormat dan hati-hati membaca syair-syairnya. Hakikat dari pengalaman Rumi adalah inti dari pengalaman religius yang bersifat intuitif. Sepertinya sikap tegas Kabir Helminski, seorang guru dari Tarekat Maulawiyah, perlu kita hargai. Helsminki menolak diajak Madonna untuk mengisi video klip-nya dengan tarian berputar, karena tarian tersebut adalah ritual yang suci, sementara Madonna hanya memandang tarian itu sebagai sesuatu yang eksotis aja.


Bagaimana dengan Rumi yang hadir di pagelaran kontes busana? Bisa jadi pemandangan kehadiran syair Rumi di pagelaran busana Donna Karan adalah gagasan sukses dari pasar yang semakin pintar memanfaatkan kebesaran Rumi untuk menjual pakaiannya. Hal-hal religius-pun akhirnya dijadikan komoditi dan tak lepas dari bidikan kaum pemodal. Dan mereka pun berkata, "Oh saya tidak menyangka syair cinta Rumi adalah sesuatu yang sangat religius."

 

Adi Baskoro
dimuat di Refleksi harian nasional Jawa Pos, Minggu 11 Mei 2003

You are here: Home Blog Feature Rumi: Fashion dan Syair Cinta